Sementara itu, Kepala Bagian Perekonomian dan SDA Kota Surabaya Vykka Anggradevi Kusuma memaparkan bahwa penghargaan ini diraih berkat implementasi tujuh program unggulan sepanjang 2025. Program tersebut mencakup perluasan literasi dan inklusi keuangan bagi warga.
Vykka merinci, pertumbuhan ekonomi Surabaya pada 2025 tercatat mencapai 5,87 persen, melampaui target 5,77 persen. Adapun Indeks Pembangunan Manusia (IPM) berada di angka 85,65 dan tingkat kemiskinan berhasil ditekan turun hingga 3,56 persen.
Ketujuh program unggulan tersebut meliputi Satu Data Surabaya untuk penguatan infrastruktur digital, program PASTI LAKU untuk edukasi akses keuangan, serta perlindungan jaminan sosial melalui BPJS Ketenagakerjaan bagi para pekerja termasuk pengemudi ojek online.
Program berikutnya adalah penyaluran Kredit Melawan Rentenir PUSPITA, platform digital pemasaran UMKM PEKEN, Galeri Investasi Pasar Modal di Mal Pelayanan Publik Siola, serta digitalisasi pembayaran lewat KATEPAY dan SimPel. Pemkot juga memfasilitasi pembiayaan berbunga rendah seperti PUSPITA dan Sikumis untuk mendukung pengembangan UMKM.
Memasuki tahun 2026, Pemkot Surabaya berencana melanjutkan program yang ada serta memperkuat basis data melalui SOMASI PINJOL dan digitalisasi sektor pariwisata serta pasar tradisional.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menyampaikan bahwa saat ini terdapat 552 TPAKD di seluruh wilayah Indonesia. Berdasarkan survei bersama BPS dan LPS, tingkat literasi keuangan Indonesia pada 2026 mencapai 69,57 persen dan tingkat inklusinya menembus 93,61 persen. "Tentu saja ini merupakan kerja sama yang sangat baik antara pemerintah, kemudian OJK, Bank Indonesia dan juga seluruh pemerintah daerah kabupaten/kota di Indonesia," tandas Friderica.