"Bagi saya, kenyataan ini tantangan. Saya bertanya pada diri sendiri, kenapa Jakarta tidak punya panggung renang antarsekolah yang terbuka untuk semua?" ujar Sebastian.

"Banyak yang meragukan kami. Saya memilih untuk membuktikannya lewat tindakan, bukan kata-kata," lanjut Sebastian.

Kata Sebastian, ide kompetisi ini lahir dari pengalamannya sebagai atlet renang. Ia pernah bertanding di tingkat internasional di Singapura dan Malaysia serta meraih juara 2 di Jakarta Open Championship dan juara 3 di KRAPDA.

Sebastian melihat bahwa kompetisi renang antarsekolah bergengsi seperti IASAS (Interscholastic Association of Southeast Asia Schools) hanya dapat diikuti oleh sejumlah kecil sekolah internasional.

Sebastian menjelaskan bahwa gagasan membuat lomba renang antarsekolah tidak langsung disambut. Guru dan teman-teman sebaya meragukan apakah seorang siswa SMA mampu menggelar kompetisi berskala besar. Berbagai rintangan juga muncul di setiap tahap persiapan.

Ia pun turun tangan langsung, mendatangi klub-klub renang, sekolah, dan para pendukung satu per satu untuk menggalang dukungan. Perjuangan itu dipikul bersama timnya. Ada malam ketika tim bekerja hingga pukul 4 pagi demi menyelesaikan poster promosi, sementara seluruh panitia tetap membagi waktu dengan kewajiban sekolah.