NADIKABAR.COM — Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI) menyatakan besarnya basis pengguna dan nilai ekonomi yang terbentuk menunjukkan aset kripto kini menjadi bagian yang semakin strategis dalam perkembangan ekonomi digital Indonesia.

"Industri kripto memiliki potensi ekonomi yang besar dan saat ini masih terus berkembang," ujar Sekretaris Jenderal Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI) William Sutanto dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.

William yang juga CEO Indodax itu menambahkan perkembangan aset kripto dan teknologi blockchain di Indonesia memasuki fase yang semakin luas seiring meningkatnya adopsi masyarakat serta berkembangnya inovasi berbasis aset digital.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah akun konsumen aset kripto telah mencapai 22,93 juta akun per Juli 2026, dengan nilai transaksi perdagangan aset kripto sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai sekitar Rp171,12 triliun.

Menurut dia, kripto memiliki karakter yang borderless atau tak mengenal batas wilayah, sehingga masyarakat bisa mengakses berbagai platform (exchange) dari mana saja.

"Karena itu, tantangannya adalah bagaimana ekosistem lokal bisa terus berkembang secara sehat, kompetitif, dan tetap memberikan manfaat bagi pengguna maupun perekonomian Indonesia," ujar dia dalam Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) x Indonesia Fintech Summit & Expo (IFSE) 2026.

Ia juga menambahkan terkait kolaborasi serta langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh stakeholder untuk memperkuat ekosistem kripto nasional sekaligus menekan penggunaan perdagangan aset keuangan digital (PAKD) ilegal.