"Ya ini kan informasinya bersifat masif ya. Kemudian anak-anak sekolah juga biasanya menjadi salah satu warga yang diajak-ajak oleh mereka yang ingin melakukan aksi unjuk rasa," ujarnya.
"Jadi ya kita karena ini informasinya tahu gitu, ajakannya juga masif ke semua warga, tidak menutup kemungkinan anak-anak itu bisa diajak gitu kan," sambungnya.
Karena itu, jika terdapat informasi mengenai mobilisasi pelajar yang diketahui secara luas, sekolah diminta tidak lengah melakukan pencegahan.
"Kalau ada kejadian-kejadian serupa yang diketahui secara masif oleh masyarakat, oleh sekolah, oleh kita semuanya, ya sekolah sih saya imbau untuk tidak masuk dan tidak lalai untuk mencegah anak-anaknya ikut ke Jakarta," kata Purwanto.
Disdik Jabar juga belum menutup kemungkinan adanya sanksi bagi siswa yang tetap nekat mengikuti aksi secara diam-diam. Namun, Purwanto menegaskan langkah yang diambil akan bergantung pada motif serta aktivitas siswa tersebut selama mengikuti aksi.
"Ya nanti kita lihat motifnya apa, terus apa yang dilakukan di sana gitu. Dia kalau berarti kan mengabaikan gitu imbauan kita, ya nanti mekanismenya ada sifatnya sanksi ringan, sanksi sedang, atau seperti apa," pungkasnya.
Selain mencegah keterlibatan pelajar dalam aksi demonstrasi, Nota Dinas tersebut juga meminta sekolah mengantisipasi tawuran, kekerasan, penyalahgunaan narkotika, hingga potensi mobilisasi siswa ke dalam komunitas geng motor atau kelompok lain yang dapat mengganggu keamanan dan ketertiban.