Menurut dia, kebijakan kuliah gratis berpotensi menambah jumlah mahasiswa dan beban pembelajaran. Kalau beban bertambah sementara kesejahteraan dosen, rasio dosen-mahasiswa, dukungan penelitian, dan fasilitas tidak ikut diperbaiki, maka negara berisiko memperoleh akses yang lebih luas tetapi kualitas yang stagnan.

Anggun memaparkan dalam simulasi sederhana, 25 persen dari Rp93,74 triliun setara sekitar Rp23,44 triliun per tahun. Sementara, Data Statistik Pendidikan Tinggi 2025 menunjukkan sekitar 85.996 dosen pada PTN akademik dan 11.560 pada PTN vokasi. Sehingga jumlahnya menjadi sekitar 97,6 ribu dosen.

"Kalau Rp23,44 triliun tersebut dihitung terhadap sekitar 100 ribu dosen, tersedia ekuivalen anggaran kesejahteraan sekitar Rp234 juta per dosen per tahun, atau kurang lebih Rp19,5 juta per bulan," ucap dia.

"Bahkan kalau hanya 50 persen yang diberikan sebagai tambahan penghasilan langsung, sementara sisanya digunakan untuk jaminan sosial, pengembangan kompetensi, penelitian dan kesejahteraan lainnya, tambahan pendapatannya masih sekitar Rp9,8 juta per dosen per bulan," kata Anggun melanjutkan.

Ia menilai gagasan kuliah gratis sebenarnya juga dapat menjadi momentum untuk memperbaiki kesejahteraan dosen.