Siddiqi mengatakan upaya berkelanjutan untuk mendiversifikasi perekonomian, meningkatkan daya saing, mendukung rumah tangga rentan, dan memperkuat ketahanan akan menjadi penting untuk mempertahankan pertumbuhan inklusif.
Menurut siaran pers tersebut, perkiraan inflasi telah direvisi naik, mencerminkan kenaikan harga minyak global dan biaya impor.
Siaran pers itu menyebutkan bahwa inflasi naik dari 2,6 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada Februari menjadi 7,2 persen pada Mei, sebelum melandai ke angka 5,5 persen pada Juli.
ADB memproyeksikan inflasi sebesar 4,7 persen pada 2026 dan 2,8 persen pada 2027, seiring langkah-langkah keringanan pajak bahan bakar dan nilai tukar riel yang relatif stabil membantu meredam tekanan harga, papar siaran pers itu.