Meski begitu, dia mengakui ada penurunan bobot tebu akibat cuaca kering, tetapi secara keseluruhan produksi nasional tetap meningkat karena luas areal juga bertambah.

Dari sisi industri, AGI menilai kondisi tahun ini cukup kondusif. Selain produksi meningkat, harga gula dan harga tetes tebu juga berada pada level yang menguntungkan petani maupun pabrik gula.

Harga lelang gula saat ini bahkan telah berada di atas Rp17.000 per kilogram, jauh di atas harga acuan pembelian gula di tingkat produsen sebesar Rp14.500 per kilogram.

Kondisi tersebut, menurut Dwi, memberikan sinyal positif bagi keberlanjutan industri gula nasional. Peningkatan pendapatan petani dan pabrik gula diharapkan dapat mendorong perluasan areal tanam tebu pada musim berikutnya.

"Dengan harga gula yang baik, harga tetes yang baik, dan produksi nasional yang meningkat, harapannya pendapatan petani tebu maupun pabrik gula juga meningkat. Tahun depan mestinya akan lebih banyak petani yang menanam tebu dan luas arealnya bertambah," katanya.

AGI juga menilai konsistensi pemerintah dalam menjalankan program bongkar ratun menjadi salah satu faktor penting yang mendukung peningkatan produktivitas. Kebijakan tersebut dinilai perlu terus dilanjutkan untuk memperkuat fondasi pencapaian target swasembada gula nasional.

Meski demikian, Dwi mengingatkan tantangan industri gula ke depan masih cukup besar. Selain mengejar target swasembada gula konsumsi, pemerintah juga tengah mendorong pencapaian swasembada gula industri serta pengembangan program bioetanol melalui implementasi mandatory blending dari etanol E5 menuju E20.