Buku tersebut menggambarkan perjalanan seorang perempuan yang berasal dari keluarga guru di Sumedang dan kemudian berkiprah dalam berbagai bidang di tengah tantangan zamannya.

Ia menilai manfaat dari pengabdian tersebut masih dapat dirasakan hingga saat ini. Kesempatan masyarakat untuk belajar dan beribadah melalui berbagai fasilitas yang dibangun atau didukung Ratjih menjadi salah satu bentuk nyata dari kontribusi yang terus berlanjut meski sosoknya telah berpulang.

Agus juga mengaitkan nilai pengabdian Ratjih dengan falsafah Sunda silih asah, silih asih, silih asuh. Falsafah tersebut mengandung semangat untuk saling mencerdaskan, menjaga martabat, memberikan empati, serta membimbing dan menjaga satu sama lain.

Menurutnya, semangat tersebut relevan untuk terus dikembangkan di tengah masyarakat agar pembangunan dan kemajuan dapat dirasakan secara bersama-sama.