NADIKABAR.COM — Bagi banyak petani, menanam jenis tanaman baru merupakan peluang yang menarik, namun mengambil risiko di lahan yang belum teruji bisa jadi menakutkan.

Kini, Landy AI, sebuah model bahasa besar (large language model/LLM) bidang pertanian yang dikembangkan oleh sebuah perusahaan Tiongkok, membantu lebih dari sejuta petani di seluruh Tiongkok dan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) dalam menjajaki berbagai kemungkinan baru yang ada di lahan mereka.

Dengan menandai lokasi lahan pertanian pada peta GPS dan memasukkan jenis tanaman yang ingin mereka tanam, para pengguna dapat langsung memperoleh laporan yang menilai kesesuaian tanaman tersebut dengan kondisi lokasi serta potensi keuntungan yang bisa diperoleh.

Ini hanyalah salah satu dari sekian banyak fungsi yang didukung oleh model yang dikembangkan oleh JJR Science & Technology Group Co., Ltd., sebuah perusahaan pertanian cerdas yang berbasis di Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi, Tiongkok selatan.

Model itu termasuk di antara produk-produk yang dipamerkan di Pusat Kerja Sama Aplikasi Kecerdasan Buatan (AI) Tiongkok-ASEAN di Nanning, ibu kota daerah otonom tersebut. Pusat itu didirikan tahun lalu, ketika nilai perdagangan bilateral Tiongkok-ASEAN melampaui 1 triliun dolar AS (1 dolar AS = Rp17.930) untuk pertama kalinya. Sejak saat itu, pusat tersebut telah menginventarisasi lebih dari 1.000 skenario AI potensial, membuka 279 di antaranya bagi para pengembang, mendirikan kantor di Vietnam, Laos, dan Malaysia, mendukung lebih dari 30 proyek lintas perbatasan, serta membentuk aliansi yang terdiri dari 55 perusahaan.

Guangxi, yang merupakan salah satu pintu gerbang utama Tiongkok menuju ASEAN, memanfaatkan keunggulan geografis, kekuatan teknologi, serta kesamaan karakteristiknya dengan pasar ASEAN untuk mengembangkan solusi AI yang disesuaikan dengan kebutuhan setempat sekaligus memenuhi permintaan penerapan AI yang terus meningkat di kawasan tersebut.

JJR adalah salah satu contoh perusahaan yang mengikuti tren AI. Didirikan pada 2008, perusahaan itu mulai mengembangkan Landy AI pada 2024. Sejak saat itu, perusahaan tersebut telah mengumpulkan sejumlah besar data, yang mencakup suhu, curah hujan, dan paparan sinar matahari di berbagai wilayah, serta karakteristik, proses produksi, dan strategi pemasaran untuk berbagai jenis tanaman.

Secara bersama-sama, data-data itu membuat Landy AI dapat mendukung pengambilan keputusan petani terkait investasi praproduksi, teknik selama produksi, dan penjualan pascaproduksi.

Dua tahun setelah diluncurkan, Landy AI kini mendukung enam bahasa, yakni bahasa Mandarin, Inggris, Laos, Thailand, Khmer, dan Melayu. JJR juga telah mengembangkan sistem inspeksi kebun berbasis AI yang dapat mengumpulkan data cuaca, hama, dan tanah secara waktu nyata (real-time) melalui berbagai sensor, serta sistem penglihatan AI yang memantau pertumbuhan tanaman dan mengidentifikasi risiko dari hama dan penyakit.