Di Provinsi Kampong Chhnang, Kamboja, AI buatan JJR membantu mengatur peralatan, seperti sistem irigasi sprinkler dan irigasi tetes, di rumah kaca untuk sayuran. Sementara itu, di Pakse, Laos, lebih dari 4.000 mu (sekitar 267 hektare) perkebunan pisang dikelola secara lebih presisi melalui teknologi baru JJR.

Popularitas penerapan pertanian berbasis AI di pasar ASEAN bukanlah kebetulan belaka. "Banyak negara di Asia Tenggara menanam tanaman tropis, seperti pisang, buah naga, dan durian, yang sangat selaras dengan keunggulan Guangxi dalam budi daya tanaman," kata Lin Zhongda, kepala departemen bisnis internasional di JJR. Guangxi sendiri menghasilkan hampir sepertujuh dari total produksi buah di Tiongkok pada 2025.

Diterapkan di lebih dari 2 juta mu (sekitar 133.333 hektare) lahan pertanian di Tiongkok dan negara-negara ASEAN, solusi pertanian cerdas dari perusahaan ini diharapkan dapat mengurangi biaya tenaga kerja lebih dari 20 persen, ujar Chen Xiujuan, direktur pusat manajemen JJR. Dia menambahkan bahwa usia pengguna Landy AI berkisar antara 20 hingga 60 tahun, yang sejalan dengan tujuan awal pengembangan produk tersebut.

"Para petani berpengalaman menunjukkan minat dan permintaan yang kuat terhadap pengetahuan pertanian profesional dan asisten AI untuk membantu mereka mengembangkan peluang baru," ujar Chen. "Pemuda yang berkomitmen pada revitalisasi perdesaan dapat menggunakan AI kami untuk menutupi kekurangan pengalaman mereka."

Dari Guangxi, AI juga memainkan peran yang lebih kuat dalam bidang perawatan kesehatan sehingga memberikan manfaat kepada negara-negara ASEAN. Di Fakultas Stomatologi Universitas Kedokteran Guangxi, sistem interpretasi AI multibahasa yang dikembangkan oleh rumah sakit afiliasinya memungkinkan penerjemahan secara waktu nyata antara bahasa Mandarin dan lebih dari 10 bahasa di Asia Tenggara, dengan fokus pada terminologi kedokteran gigi, tutur Kuang Hai, salah satu pimpinan di rumah sakit tersebut.

Sementara itu, sistem yang memadukan AI dan VR membuat dokter gigi dari negara-negara ASEAN dapat mempraktikkan prosedur klinis dalam lingkungan virtual yang imersif tanpa harus melakukan perjalanan melintasi batas negara.

Kuang, yang berspesialisasi dalam perawatan bibir sumbing dan celah langit-langit serta telah memimpin sejumlah misi pembedahan di Laos, menuturkan bahwa rumah sakit tersebut juga memanfaatkan AI untuk mengembangkan platform penilaian dan rehabilitasi wicara bagi pasien yang menderita bibir sumbing dan celah langit-langit sumbing. Platform itu kini telah digunakan oleh beberapa pihak di Laos.

Banyak pasien terus mengalami kesulitan berbicara pascaoperasi akibat buruknya koordinasi otot bibir mereka, tetapi rehabilitasi wicara kerap kali terabaikan, tutur Kuang. "Platform tersebut menggunakan AI untuk menganalisis ucapan pasien, mengidentifikasi masalah, serta memberikan panduan dan latihan daring yang tepat sasaran. Platform ini menghemat waktu dan biaya pasien yang harus bepergian ke rumah sakit untuk menjalani terapi, sekaligus meningkatkan hasil rehabilitasi," imbuh Kuang.

Sejauh ini, platform itu telah melayani lebih dari 2.000 kunjungan pasien, termasuk pasien yang berasal dari daerah pegunungan terpencil di Guangxi. Selain bahasa Mandarin, platform itu juga mendukung bahasa Laos.