Pada akhirnya, polisi menembakkan gas air mata ke arah kelompok tersebut, termasuk ke arah sang wali kota. Gelombang protes pelajar, yang bermula di kawasan pinggiran Paris yang terpinggirkan, telah berlangsung selama lebih dari dua minggu dan menyingkap kemarahan publik yang meluas.

Demo ini terjadi 6 bulan menjelang pemilihan umum untuk menggantikan Presiden Prancis Emmanuel Macron. Lebih dari 6.000 orang telah ditangkap dan puluhan pelajar terluka sejak protes dimulai.

Kelompok hak asasi manusia dan serikat pekerja menuduh polisi menggunakan taktik kekerasan terhadap anak di bawah umur, termasuk penggunaan tongkat pemukul, gas air mata, dan senjata 'flashball' (peluru karet keras). Di sisi lain, pihak berwenang menyatakan ratusan petugas polisi juga terluka, sekolah-sekolah dibakar atau dijarah, serta guru dan warga sipil turut menjadi korban serangan.

Kota Saint-Denis, tempat tingkat kemiskinan mencapai lebih dari dua kali lipat rata-rata nasional, merupakan salah satu lokasi awal protes pelajar pada akhir September lalu. Demo itu dipicu oleh masalah ruang kelas yang terlalu padat dan tidak higienis, kekurangan guru, serta ketimpangan kesempatan.