Santi (24) warga lainnya, juga tidak keberatan dengan konsep revitalisasi saat ini. Yang terpenting baginya, taman tersebut harus dijaga supaya bisa terus dimanfaatkan dengan nyaman oleh siapa saja.
"Yang penting mah jadi lebih bagus lagi, kita yang datang juga jadi lebih nyaman mau pakainya juga. Urusan pagar atau yang lain itu mah kan udah ada yang rencanain yah, a, jadi enggak begitu keganggu sih saya mah," tuturnya.
Saat dikonfirmasi, Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Luthfi Firdaus menjelaskan soal kondisi ini. Ia mengatakan, fasilitas itu dibangun untuk mencegah tindakan orang yang tak bertanggungjawab seperti vandalisme hingga potensi kerusuhan.
"Jadi kita kan masih punya permasalahan soal vandalisme, terus masalah keamanan, ketertiban. Apalagi kemarin Taman Lansia itu kan ada konsentrasi massa soal demo Agustus tahun lalu. Makanya kita lakukan perbaikan banyak, karena ada kerusakan-kerusakan taman," katanya kepada NadiKabar.
"Jadi polanya memang sekarang seperti itu. Kita bikin one way gate-nya, agar bisa mudah dikendalikan. Karena memang di lapangan masih banyak permasalahan vandalisme sama ketertiban, sama kebersihan seperti itu, termasuk masalah tunawisma," tambahnya.
Luthfi sempat ditanya pembangunan pagar itu justru malah merusak estetika taman. Namun menurutnya, kebutuhan itu disesuaikan dengan sejumlah aspek, terutama faktor keamanan.