β€œKami memperkirakan The Fed masih akan melakukan satu kali kenaikan suku bunga sebelum akhir 2026. Sikap The Fed yang semakin hawkish serta kenaikan harga minyak yang terus berada di atas 100 dolar AS per barel dapat kembali meningkatkan volatilitas rupiah dan risiko terhadap defisit fiskal Indonesia,” ujar Fitri.

Lebih lanjut, dirinya mengungkapkan skenario era suku bunga global yang tinggi atau higher for longer masih menjadi salah satu tantangan bagi pasar obligasi Indonesia.

Meski demikian, obligasi pemerintah Indonesia masih menawarkan tingkat imbal hasil riil yang relatif tinggi dibandingkan dengan sejumlah negara emerging market dengan peringkat investment grade. Imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun berada di kisaran 7,0 persen–7,2 persen, sementara inflasi berada di sekitar 3 persen, sehingga menghasilkan imbal hasil riil sekitar 4 persen.

β€œKondisi pasar pendapatan tetap Indonesia saat ini cenderung mengarah pada pasar yang selektif dan didorong oleh pendapatan kupon obligasi (carry). Investor dapat mempertimbangkan durasi pendek sampai menengah (belly of the curve) hingga terdapat bukti yang lebih jelas bahwa imbal hasil obligasi global telah mencapai puncaknya,” kataFitri.