NADIKABAR.COM — Badan Geologi Kementerian ESDM melaporkan Gunung Anak Krakatau kembali erupsi pada Minggu (6/9/2026) pukul 03.53 WIB. Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan ada beberapa kekhawatiran terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau. Saat ini aktivitas gunung tersebut memang meningkat dibandingkan periode sebelumnya, ditandai oleh erupsi yang berulang dan berlangsung secara terus-menerus.

"Kondisi tersebut menunjukkan adanya suplai magma dan gas dalam tubuh gunung yang masih berlangsung. Namun erupsi yang sering tidak otomatis ini berarti memang akan terjadi erupsi yang lebih besar di mana Badan Geologi tentunya akan terus mengevaluasi perkembangan aktivitas berdasarkan seluruh data pemantauan, bukan hanya berdasarkan jumlah atau tinggi kolom erupsi," kata Lana, Minggu (6/9/2026).

Lana mengungkapkan bahaya yang paling perlu diwaspadai saat ini adalah lontaran materi pijar, batuan vulkanik, abu vulkanik, dan gas vulkanik berkonsentrasi tinggi, serta kemungkinan aliran material erupsi di sekitar kawah dan tubuh Gunung Anak Krakatau.

"Lontaran material ini dapat merusak peralatan yang berada dekat dengan pusat aktivitas dan membahayakan siapapun yang masuk zona terlarang. Aktivitas berpotensi berfluktuasi dan meningkat ini karena gempa frekuensi rendah jangan juga hibrid, harmonik serta tremor masih terekam sehingga jenis kegempaan tersebut menunjukkan pergerakan atau pelepasan fluida vulkanik dalam sistem gunung api," ungkapnya.

"Meskipun demikian, waktu besar dan bentuk erupsi berikutnya tidak dapat dipastikan secara tepat, karena itu evaluasi dilakukan secara berkelanjutan berdasarkan perubahan seluruh parameter pemantauan," tambahnya.

Disinggung terkait potensi tsunami akibat erupsi tersebut, Lana menyebut tidak semua erupsi berpotensi menimbulkan tsunami. "Tidak setiap erupsi Gunung Anak Krakatau akan memicu tsunami. Tsunami Selat Sunda pada tanggal 22 Desember 2018, terutama ini berkaitan dengan keruntuhan sebagian tubuh gunung api ke laut dalam volume yang besar, bukan semata-mata akibat kolom erupsi. Morfologi Gunung Anak Krakatau saat ini berbeda dibandingkan sebelum peristiwa 2018. Sebagian besar tubuh gunung pada sisi tertentu telah runtuh pada 2018, kemudian juga mengalami pertumbuhan dan perubahan morfologi kembali akibat aktivitas erupsi berikutnya," jelasnya.

Lana menuturkan, berdasarkan pemetaan morfologi terbaru, bentuk dasar tubuh gunung dan kawah utamanya relatif tidak menunjukkan perubahan signifikan dibandingkan pemetaan sebelumnya.

"Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pasca-erupsi 22 Desember 2018 ini masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Meskipun demikian, perkembangan aktivitas dan perubahan morfologi tetap dipantau secara intensif," katanya.

Erupsi tersebut mengakibatkan perangkat kamera pengawas (CCTV) yang digunakan untuk memantau aktivitas gunung mengalami kerusakan. "Kerusakan perangkat yang berada dekat kawah dapat mengurangi cakupan pengamatan visual dari titik tertentu, tetapi tidak semata-mata menghentikan pemantauan Gunung Anak Krakatau. Pemantauan yang dilakukan oleh Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi Kementerian ESDM ini dilakukan secara multiparameter dan tidak hanya bergantung pada satu CCTV atau satu instrumen saja," tuturnya.

Menurut Lana, parameter utama yang digunakan mencakup jaringan seismik, pengamatan visual dari lokasi aman, deformasi, emisi gas, citra satelit, serta informasi lapangan. Redundansi instrumen sangat penting karena peralatan yang ditempatkan dekat gunung api aktif selalu berisiko terkena lontaran material, abu, cuaca ekstrem, maupun gangguan komunikasi.

"Untuk itu, PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM juga melakukan evaluasi kualitas dan kontinuitas data. Perbaikan atau penggantian alat akan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi aktivitas dan keselamatan petugas. Selama aktivitas tinggi, personel tidak akan dikirim memasuki zona berbahaya hanya untuk memperbaiki sistem," pungkasnya.