NADIKABAR.COM — Gunung Anak Krakatau mengalami peningkatan aktivitas vulkanik hingga erupsi lagi sejak dua hari lalu. Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia, Daryono Perwira Sakti, mengatakan fenomena itu tidak bisa langsung dikaitkan dengan potensi tsunami di Selat Banten.
"Masyarakat pesisir Banten dan Lampung tidak perlu langsung mengaitkan setiap peningkatan aktivitas atau erupsi Anak Krakatau dengan ancaman tsunami. Erupsi gunung api tidak otomatis menimbulkan tsunami," kata Daryono saat dihubungi, Minggu (11/10/2026).
Gunung Anak Krakatau diketahui dua kali erupsi pada Jumat (9/10). Gunung api tersebut saat ini juga telah berstatus di Level III (siaga) usai sebelumnya turun di Level II (waspada).
Daryono mengatakan peningkatan status itu harus dimaknai sebagai langkah mitigasi dini. Dia mengimbau masyarakat tidak panik dan menyebarkan informasi yang tidak akurat.
"Kita perlu menghormati dan mengikuti hasil analisis serta rekomendasi PVMBG Badan Geologi sebagai lembaga yang memiliki kewenangan dan kompetensi teknis dalam pemantauan aktivitas gunung api. Hal terpenting saat ini adalah memastikan masyarakat memahami potensi bahayanya dan mengetahui tindakan keselamatan yang harus dilakukan," katanya.