Digitalisasi juga diterapkan dalam sistem keanggotaan. KDMP Wonokerto menggunakan kartu anggota yang dilengkapi barcode. Setiap kali anggota berbelanja di minimarket koperasi, kartu tersebut dapat dipindai oleh kasir. Transaksi kemudian tercatat dalam database dan terakumulasi menjadi poin selama satu tahun.

Poin tersebut direncanakan dapat ditukarkan dengan hadiah menjelang akhir tahun atau Lebaran. Selain itu, anggota juga berhak memperoleh sisa hasil usaha (SHU) melalui rapat anggota tahunan atau RAT.

"Di dalam sistem anggota itu kita buat skema (semacam) kartu member. Kalau tempat kita di sini kartu anggota," kata Yusril.

Menurutnya, sistem poin tersebut menjadi salah satu keuntungan yang ditawarkan kepada anggota. Selain memperoleh harga belanja yang lebih murah, anggota juga memiliki kesempatan mendapatkan hadiah berdasarkan aktivitas belanja selama satu tahun.

"Setiap kali pembelian di koperasi di-scan, dia akan masuk ke dalam database. Di situ nanti akan terakumulasi berapa poin dalam kurun waktu satu tahun," ujarnya.

Yusril menambahkan, jumlah anggota KDMP Wonokerto saat ini mencapai sekitar 65 orang. Jumlah itu meningkat dari 26 anggota ketika koperasi pertama kali dibentuk pada 21 April 2025.

Pemanfaatan Media Sosial untuk Promosikan Koperasi Desa

Pemanfaatan teknologi juga dilakukan melalui media sosial. KDMP Wonokerto menggunakan Instagram, TikTok, dan WhatsApp untuk mempromosikan produk koperasi, barang titipan pelaku UMKM, sekaligus memperkenalkan aktivitas koperasi kepada masyarakat.

Nur Muhammad mengatakan TikTok menjadi salah satu platform yang paling ramai digunakan untuk mempromosikan koperasi. Konten yang dibuat tidak selalu membahas produk yang dijual, tetapi juga mengikuti tren yang sedang ramai di masyarakat.

Melalui konten tersebut, koperasi tidak hanya memperkenalkan asinan mangga, es mambo, telur asin, makanan ringan kemasan ulang, kunyit asam dan produk UMKM lainnya. Nama KDMP Wonokerto juga ikut diperkenalkan sebagai tempat belanja, pusat kegiatan ekonomi warga, serta ruang pemasaran produk lokal.

Nur mengatakan, beberapa konten koperasi bahkan berhasil masuk FYP TikTok. Salah satu konten disebut telah ditonton sekitar 300 ribu kali.

"Kadang kita bikin konten bukan hanya untuk mempromosikan produknya, tapi juga koperasinya. Jadi masyarakat tahu kalau di Wonokerto ada koperasi desa," ujarnya.

Menurut dia, media sosial juga menjadi sarana untuk menyampaikan informasi mengenai kegiatan koperasi, produk yang tersedia, promosi, hingga aktivitas anggota. Dengan begitu, komunikasi koperasi tidak hanya berlangsung ketika warga datang langsung ke gerai.

Dengan pola tersebut, media sosial tidak hanya berfungsi sebagai saluran promosi produk, tetapi juga sebagai cara memperkenalkan identitas dan aktivitas KDMP Wonokerto. Koperasi berupaya membangun hubungan dengan masyarakat melalui konten yang lebih ringan, mengikuti tren, dan menunjukkan kegiatan sehari-hari di gerai.