NADIKABAR.COM — Pengemudi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Eropa rata-rata mengeluarkan biaya pengisian daya per kilometer kurang dari separuh biaya yang dikeluarkan pengemudi kendaraan diesel untuk mengisi bahan bakar, menurut kelompok lingkungan Transport & Environment (T&E) yang berbasis di Brussel.

Analisis yang dirilis T&E pada Selasa (29/9) menyerukan agar Eropa mempercepat transisinya ke EV dan menolak pemangkasan pajak bahan bakar secara menyeluruh.

T&E merekomendasikan bantuan yang ditargetkan bagi rumah tangga berpenghasilan rendah, serta pengenaan pajak atas keuntungan tak terduga (windfall tax) terhadap perusahaan energi untuk mendanai transportasi publik dan program penggantian kendaraan lama. "Kita berada pada momen kritis dalam krisis solar. Harga sudah sangat tinggi bagi masyarakat dan pelaku usaha, dan jika Amerika Serikat memblokir ekspor solar, ada risiko nyata terjadinya kekurangan pasokan yang serius," kata Antony Froggatt, direktur senior T&E. "Elektrifikasi merupakan satu-satunya cara untuk memastikan ini menjadi krisis minyak yang terakhir. Namun, kita juga membutuhkan langkah-langkah jangka pendek," ujarnya. Analisis tersebut menunjukkan bahwa pengemudi kendaraan diesel kini harus membayar 32 euro (1 euro = Rp20.426) lebih banyak untuk mengisi tangki berkapasitas 50 liter dibandingkan pada awal tahun. Sekitar 16 euro dari kenaikan tersebut disebabkan oleh meningkatnya margin kilang minyak. Estimasi Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) menunjukkan margin tersebut meningkat dari sekitar 0,10 euro per liter pada Februari menjadi 0,41 euro per liter pada sekitar 14 September. Perbandingan tersebut hanya mencakup biaya pengisian bahan bakar dan pengisian daya. Perhitungan didasarkan pada konsumsi rata-rata kendaraan diesel sebesar 6,9 liter per 100 kilometer dan kendaraan listrik berbasis baterai sebesar 20,2 kilowatt-jam per 100 kilometer, dengan harga listrik 0,343 euro per kilowatt-jam. T&E menyatakan bahwa perkiraan biaya pengisian daya tersebut, yang memperhitungkan keterkaitan antara harga listrik dan gas serta jeda waktu sebelum perubahan harga listrik diteruskan kepada konsumen rumah tangga, kemungkinan merupakan batas atas. Analisis T&E sebelumnya menunjukkan bahwa enam dari delapan perusahaan minyak besar yang diteliti, termasuk BP dan Shell, mencatatkan laba lebih dari dua kali lipat di Uni Eropa (UE) pada kuartal kedua 2026 dibandingkan dengan periode yang sama setahun sebelumnya. Studi T&E yang diterbitkan pada Senin (28/9) menemukan bahwa truk berat bertenaga listrik baterai memiliki total biaya kepemilikan yang lebih rendah dibandingkan truk diesel di enam dari sembilan pasar utama UE. Keenam pasar tersebut menyumbang 46 persen penjualan truk berat baru di blok tersebut. Komisaris UE untuk Energi dan Perumahan Dan Jorgensen mengirim surat kepada negara-negara anggota, meminta mereka mempertimbangkan penerapan langkah-langkah penghematan energi sebagai respons terhadap potensi tingginya harga gas. T&E mengatakan Komisi Eropa seharusnya tidak hanya berfokus pada gas, berargumen bahwa minyak dan solar menjadi komoditas yang paling terdampak dalam krisis energi.