"Kalau kita menilik di pergerakan Minke, itu kan dia baru mulai menumbuhkan rasa nasionalismenya. Waktu itu belum ada nasionalisme, ya, maksudnya masih penjajahan gitu kan. Cuma dia tuh paham betul identitasnya sebagai Bumiputra tuh ternyata belum dibanggakan gitu," ujar Dian.
Ia menjelaskan, pada awalnya Minke sangat mengagumi orang Belanda dan budaya Barat. Namun, seiring dengan perkembangan dirinya, terutama melalui kegiatan menulis, Minke mulai membangun kebanggaan terhadap identitasnya sebagai bumiputra dan berupaya menyuarakan kepentingan masyarakatnya sendiri.
"Dia jadi lumayan bangga hati saat menulis untuk orangnya sendiri, rakyatnya sendiri, akhirnya dia mulai menulis dengan bahasanya. Kan tadinya maunya bahasa Belanda doang, gitu kan," tutur Dian.
Meski mengakui pentingnya tema dalam "Bumi Manusia", Dian justru merekomendasikan buku kedua, "Anak Semua Bangsa". Ia tertarik pada perkembangan kepekaan Minke terhadap kehidupan masyarakat kecil, termasuk persoalan yang dihadapi para petani.