NADIKABAR.COM — Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani meminta pemerintah memperkuat kewaspadaan terhadap peningkatan aktivitas influenza di Indonesia, tanpa menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat.
“Peningkatan kasus tentu perlu menjadi perhatian, tetapi masyarakat tidak perlu panik. Yang harus diperkuat adalah kewaspadaan, surveilans, kesiapan fasilitas kesehatan, dan komunikasi publik yang konsisten,” kata Netty, dikutip di Jakarta, Kamis.
Sebelumnya, diketahui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat aktivitas influenza di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara mengalami peningkatan. Hingga minggu ke-38 pada 2026, proporsi positif influenza dalam surveilans mencapai sekitar 56 persen.
Netty menilai penguatan pemantauan kasus melalui surveilans diperlukan untuk mendukung deteksi dini terhadap perubahan pola influenza sehingga pemerintah dapat merespons perkembangan situasi secara tepat.
Selain surveilans, Netty pun meminta kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan turut diperkuat untuk menghadapi kemungkinan peningkatan kebutuhan pelayanan akibat aktivitas influenza.
Menurut dia, penguatan kewaspadaan perlu diikuti dengan komunikasi publik yang konsisten agar masyarakat memperoleh informasi yang benar dan tidak menyikapi peningkatan aktivitas influenza secara berlebihan.
“Komisi IX tentu mendorong agar sistem surveilans terus diperkuat. Kita ingin pemerintah mampu mendeteksi perubahan pola influenza lebih cepat, fasilitas kesehatan siap menghadapi peningkatan kebutuhan pelayanan, dan masyarakat mendapatkan informasi yang benar. Kewaspadaan harus meningkat, tetapi kepanikan jangan,” ujar Netty.
Ia mengapresiasi imbauan Kemenkes agar masyarakat tidak melakukan panic buying obat antivirus seperti oseltamivir. Penggunaan obat tersebut, perlu dilakukan berdasarkan indikasi medis dan tidak dilakukan secara sembarangan.
“Jangan sampai kekhawatiran terhadap influenza justru mendorong masyarakat membeli atau mengonsumsi obat tanpa pemeriksaan. Pengobatan harus mengikuti indikasi dan rekomendasi tenaga kesehatan,” kata dia.
Sebelumnya, Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Herbuwono menyampaikan mayoritas infeksi influenza A adalah jenis penyakit yang tidak berbahaya dan dapat sembuh sendiri, meski pemantauan perkembangan kasus dan tingkat keparahan tetap dilakukan pemerintah.
"Ini adalah self-limiting disease, penyakit yang sembuh dengan sendirinya tanpa diobati. Jadi tidak berbahaya influenza A tersebut," ujar Dante dalam konferensi pers di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Jakarta, Rabu (30/9).
Ia mengatakan berdasarkan kondisi yang dipantaunya saat ini tidak terdapat peningkatan kasus influenza yang signifikan, baik di tingkat nasional maupun global.
Menurut dia, pola penyebaran influenza A serupa dengan influenza pada umumnya dan cenderung meningkat menjelang musim hujan di Indonesia, kemudian menurun pada Februari-Maret.