Kasus terbaru, kata dia, terjadi di Pemalang, Jawa Tengah. Seorang siswa kelas II sekolah dasar berusia tujuh tahun meninggal dunia setelah menjalani perawatan akibat dugaan kekerasan dari kakak kelas. Kasus lainnya terjadi di Tasikmalaya, Jawa Barat, dengan dugaan perundungan dan penganiayaan terhadap seorang siswa kelas X SMAN 3 Tasikmalaya oleh sejumlah kakak kelas. Di Bekasi, video sekelompok pelajar yang menyerang tiga pelajar lain juga menjadi perhatian.
Kurniasih menilai berbagai kasus tersebut tidak dapat dilihat sebagai peristiwa yang berdiri sendiri karena menunjukkan perlunya penguatan budaya sekolah yang aman dan nyaman.
"Lokasinya dan pelakunya berbeda. Ada yang terjadi antarmurid, ada kekerasan antarkelompok pelajar, bahkan ada dugaan kekerasan oleh oknum pendidik. Tapi ada benang merahnya, apakah empati, pengendalian diri, tanggung jawab, dan penyelesaian konflik tanpa kekerasan benar-benar sudah menjadi budaya di sekolah kita," kata dia.
Ia menegaskan pendidikan karakter, nilai Pancasila, dan agama tidak cukup disampaikan melalui materi pembelajaran, slogan, poster, upacara, atau nasihat moral, tetapi harus diwujudkan dalam interaksi sehari-hari di lingkungan sekolah.