Penyeberangan menggunakan rakit demi mengantarkan bocah-bocah mengenyam pendidikan dasar itu sudah berlangsung sejak tahun 90-an, tepat setelah Waduk Saguling diresmikan pemerintah di zaman Presiden Soeharto.

Sejak saat itu, rakit menjadi andalan. Moda transportasinya berkembang dengan perahu kecil atau sampan. Ada yang digerakkan dengan dayung, namun jika pemiliknya mampu, perahu akan dilengkapi dengan mesin.

"Nah dulu itu, orangtua antar anaknya masing-masing pakai rakit terus perahu. Karena semakin banyak, akhirnya pihak sekolah membuatkan rakit berukuran agak besar yang bisa mengangkut 20 anak. Jadi sampai sekarang itu berlanjut, dikoordinir sama warga pemberangkatannya," kata Agus.