Hal senada juga disampaikan pengendara motor bernama Rifqi. Ia mengatakan tidak wajar jika pengendara motor disebut panic buying dengan kondisi antrean sepanjang ini.

"Saya rasa bukan, kalau panik ini sepeda motor tidak sampai begini antreannya. Kalau mobil mungkin, karena kan banyak tampungannya untuk diisi. Kalau motor kan kebutuhan hari-hari 4 sampai 5 liter," ucapnya.

Pembelian BBM bersubsidi jenis Pertalite belakangan dibatasi di sejumlah SPBU di Kota Makassar. Setiap pengisian untuk motor maksimal hanya Rp 50 ribu, sementara mobil maksimal Rp 300 ribu.

Pembatasan ini terjadi di SPBU Urip Sumoharjo tepatnya depan kantor Gubernur Sulsel. Petugas SPBU membatasi pembelian Pertalite untuk pengendara yang sudah antre berjam-jam.

"Iye Rp 50 ribu ji bisa diisi (motor). Kalau mobil Rp 300 ribu," kata salah satu petugas SPBU Urip, Jumat (11/9).

Petugas SPBU tersebut mengaku pembatasan ini bukan berlaku hari ini saja. Menurutnya, pembatasan dilakukan berdasarkan perintah dari atasannya.

"Sudah 3 hari ini (berlaku pembatasan)," ujarnya.

pembatasan pembelian Pertalite di SPBU juga diterapkan. Pembatasan ini tertuang dalam surat edaran Bupati Luwu Utara yang ditujukan kepada seluruh SPBU di wilayahnya. Isinya, motor hanya boleh mengisi maksimal Rp 35 ribu, sementara mobil cuma Rp 200 ribu.

"Kita keluarkan surat edaran tersebut dengan tujuan agar pelayanan pertalite menjadi lebih merata," kata Bupati Lutra, Andi Abdullah Rahim kepada NadiKabar, Jumat (11/9).

Surat edaran tersebut diterbitkan pada Rabu (9/9). Andi Rahim mengatakan keputusan itu diambil usai Kepala Dinas Perdagangan Lutra, Akram Risa melakukan koordinasi dengan PT Pertamina Patra Niaga.

"Keputusan tersebut tentunya lahir usai kita lakukan komunikasi dengan pertamina. Setelah itu barulah kita mengarahkan semua SPBU untuk menaati keputusan tersebut," ujarnya.

Terkait kondisi ini, Pertamina menyebut stok BBM aman dan mencukupi. Hanya saja disebut sedang ada kepanikan dari masyarakat dalam membeli BBM alias panic buying.

"Kalau untuk stok sendiri di kami sampai saat ini dalam kondisi yang aman dan mencukupi," ujar Pjs Area Manager Communication, Relations dan CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Okky Aditya Wibowo kepada NadiKabar, Kamis (10/9).

Menurut Okky, ada kecenderungan masyarakat terpengaruh informasi dari media sosial terkait kelangkaan BBM. Walhasil, masyarakat berbondong-bondong membeli BBM meski harus mengantre di SPBU karena khawatir tidak kebagian.

"Iya, yang kami lihat seperti itu (panic buying) karena banyak akun media sosial (menyebut) BBM langka. Masyarakat kan mungkin melihat di SPBU ini antre, nanti saya tidak kebagian, jadi mereka panik. Karena kalau masyarakat panik, berapa pun yang akan kami stok di SPBU juga akan tetap kurang," papar Okky.

"Kalau orang panik yang tadinya mungkin Rp 100 ribu cukup, kalau diisi Rp 200-300 ribu juga nggak cukup, karena semua orang panik nih. Takutnya nanti kehabisan, jadi semuanya pada ngisi," imbuhnya.

Sementara itu, anggota DPRD Sulsel juga mengklaim antrean BBM bersubsidi di sejumlah SPBU Kota Makassar dipicu fenomena panic buying alias kepanikan berujung pembelian secara berlebihan oleh warga. Legislator membantah adanya kelangkaan BBM di setiap SPBU.

Hal itu terungkap usai rombongan Komisi D DPRD Sulsel meninjau SPBU di Jalan AP Pettarani Makassar, Rabu (9/9). Informasi yang diterima legislator dari Pertamina, suplai BBM bersubsidi disebut masih dalam kondisi aman.

"Stok kita aman dan itu sudah ada penjelasan dari Pertamina. Jadi kalau informasi BBM langka itu tidak benar, hanya ada kepanikan masyarakat," tegas Ketua Komisi D DPRD Sulsel Kadir Halid kepada NadiKabar.

Kondisi itu turut ditemukan di SPBU depan pintu I Universitas Hasanuddin (Unhas), Jalan Perintis Kemerdekaan Makassar. Kadir menuturkan, pasokan solar bersubsidi di SPBU yang didatangi di Makassar relatif masih terkendali.