"Banyak perubahannya, terutama saat olahraga, stamina mereka lebih meningkat sehingga lebih antusias menerima pembelajaran," ujarnya.
Meski demikian, Rahmanita menyebut pihaknya harus sedikit menyesuaikan jadwal harian. Sebab jam awal pembelajaran sedikit bergeser karena para siswa makan bersama terlebih dahulu.
"Kalau fokus pembelajaran banyak perubahan, cuma ada sedikit perbedaan durasi waktu saat memulai pembelajaran karena mereka harus makan bersama dulu di kelas sebelum menyelesaikan pembelajaran," imbuhnya.
Berbeda dengan penanganan siswa pada autisme yang membutuhkan aturan makan ketat, seluruh siswa di SLB YPAC Banda Aceh merupakan penyandang disabilitas tunarungu. Kondisi ini memudahkan penyesuaian menu dengan pihak dapur penyedia.
"Anak kita semuanya tunarungu, tidak ada anak autis, sehingga menu yang diberikan tidak banyak kendala. Pihak dapur juga rutin konfirmasi ke kami menu apa yang kira-kira aman dikonsumsi anak-anak," tuturnya.
Rahmanita menceritakan bahwa para siswa kerap mengekspresikan selera makan mereka melalui tulisan tangan di atas kotak makan. Salah satunya biasanya berkaitan dengan porsi buah.
"Pernah di omprengnya itu mereka nulis sendiri. Biasanya kan buah bervariasi, mungkin waktu itu jeruknya agak kecil, mereka nulis 'jeruknya besar'. Alhamdulillah pihak dapur sangat terbuka menerima masukan dari anak-anak," ungkapnya.