Di sisi lain, Rahmanita mengungkapkan, keberadaan program makan bergizi meringankan beban para orang tua siswa yang mayoritas berasal dari keluarga kurang mampu. Dia menyebut sebagian besar murid yang menempati asrama sekolah berasal dari daerah di luar Banda Aceh, seperti Takengon dan Meulaboh.

"Status sosial orang tua di sini banyaknya yang kurang mampu. Yang tinggal di asrama itu orang tuanya banyak yang petani. Karena asrama sekarang dikelola secara mandiri, bantuan makanan ini sangat membantu mereka bertahan sekolah," ungkap dia.

Adapun pola pembagian makan di sekolah dibagi dalam dua skema, siswa jenjang SMP dan SMA menyantap makanan bersama di ruang makan asrama. Sementara siswa TK hingga SD makan di ruang kelas masing-masing.

Tak jarang, siswa yang sudah sarapan di rumah memilih menyisihkan buah untuk dibawa pulang. Mereka ingin menunjukkan makanan yang didapat di sekolah kepada keluarga atau membaginya dengan adiknya di rumah.

Meski begitu, Rahmanita tak membantah bahwa pada awal penyaluran MBG sebagian siswa sempat merasa ragu untuk mengonsumsi makanan tersebut. Namun, kini para siswa dapat menyantap makanan bergizi dengan aman.

"Awalnya memang ada yang takut-takut karena sering lihat kabar di media. Kami beri pengertian bahwa makanan ini higienis, sehat, dan bagus untuk belajar. Sekarang anak-anak sudah sangat enjoy, bahkan setiap pagi yang ditanyakan ke guru 'hari ini menu apa?'," imbuh Rahmanita.