Meski statusnya mahasiswa pascasarjana, pihak kampus tetap yang mengurus rencana studi. Sementara di Indonesia, rencana studi diurus masing-masing mahasiswa.

"Dan semuanya itu (di India) masih diatur sama kampus. Padahal kita udah S2, kan? Kalau di kampusku dulu pas S1 tuh, pengalaman S1 tuh, ya kita semua ngurus sendiri. Mulai dari milih KRS, milih jadwal sendiri, milih dosen sendiri. Tapi di sini semua ditentukan," ujarnya.

"Dan (rencana studi) itu (diurus kampus) dari semester 1 sampai semester 4," lanjutnya.

Selain itu, lulusan UNAS tahun 2020 tersebut juga menyoroti fasilitas kampus di India. Menurutnya, yang paling mencolok adalah perpustakaan kampus yang buka 24 jam.

"Di sini tuh kampus tuh biasanya kalau punya perpustakaan 24 jam. Aksesnya 24 jam," tuturnya.

Mei juga menyoroti budaya menulis mahasiswa di kampus-kampus India. Terlebih, banyak yang menulis dalam bahasa lokal mereka di media massa.

Baginya, hal ini menjadi unik karena koran-koran atau media menampilkan tulisan dengan berbagai bahasa lokal.

"Karena aku anak jurnalistik, yang aku notice banget itu adalah kalau nulis artikel, kalau itu temen-temenku yang lokal ya, artikel atau tulisan apa pun, mereka bisa menggunakan bahasa daerah mereka. Jadi di India ini sistemnya...koran itu tuh masih naik banget, karena ya koran itu akan ditulis dalam bahasa masing-masing daerah di provinsi, gitu. Itu sih," ungkapnya.