Mitigasi galodo dilakukan melalui perbaikan tutupan lahan di hulu, normalisasi alur sungai, penataan kawasan rawan, serta pembangunan bangunan pengendali sedimen seperti sabo dam untuk mengurangi daya rusak banjir bandang. Upaya ini diperkuat dengan perencanaan sabo plan, pengembangan Early Warning System (EWS), dan peningkatan kesiapsiagaan masyarakat.
Sabo dam adalah bangunan pengendali aliran debris atau lahar yang dibangun melintang pada alur sungai untuk menahan, menampung, dan mengalirkan sebagian material atau sedimen. Sabo dam dibangun bertingkat di tengah bendung sehingga dapat mengalirkan air sekaligus membendung sedimen atau endapan material vulkanik.
Apabila bendung tidak mampu menahan semua aliran debris, maka akan dilewatkan melalui bagian atas (overtopping), sehingga dapat meminimalisir risiko bencana banjir lahar di hilir.