Pemilihan instrumen investasi, menurut dia, harus disesuaikan dengan tingkat psikologis investor. Bagi mereka yang memiliki keberanian menghadap fluktuasi pasar, instrumen saham disebut menawarkan potensi imbal hasil optimal dengan catatan pemilihan saham didasari analisis fundamental perusahaan yang solid agar tak mudah panik saat pasar terkoreksi.

Sebaliknya, profil investor yang konservatif cenderung menghindari risiko tinggi, sehingga instrumen pendapatan tetap seperti Surat Berharga Negara (SBN) menjadi pilihan rasional karena menawarkan imbal hasil lebih menarik dibandingkan deposito konvensional, sekaligus memberikan kepastian arus kas bulanan berupa kupon.

Namun, Liliy mengingat bahwa aspek fundamental yang tak boleh diabaikan dalam setiap keputusan investasi adalah penggunaan dana dingin (idle funds).