Saat ini, negara memiliki dana abadi (endowment fund) pendidikan melalui LPDP yang mencapai Rp180 triliun, yang mayoritas mencetak tenaga kerja terdidik atau kerah putih (white-collar).
Sebaliknya, anggaran pelatihan vokasi bagi lebih dari 100 juta tenaga kerja kerah biru (blue-collar) tercatat sangat minim, yakni kurang dari Rp1 triliun per tahun. Padahal menurutnya potensi sektor industri manufaktur ada pada pekerja kerah biru yang membutuhkan sertifikasi keahlian.
Bob mengatakan investasi pada pelatihan terbukti memberikan imbal hasil yang tinggi bagi kesejahteraan pekerja. Ia mencontohkan program pelatihan teknik las (welding) di Surabaya dengan biaya sekitar Rp60 juta per orang selama delapan bulan. Hasilnya, lulusan pelatihan tersebut langsung terserap bekerja di industri manufaktur Jepang dengan penghasilan mencapai Rp20 juta hingga Rp40 juta per bulan.