Struktur tenaga kerja juga masih didominasi lulusan SD ke bawah sebesar 36,54 persen, sedangkan lulusan perguruan tinggi baru mencapai 12,66 persen.

Selain itu, terdapat persoalan ketidaksesuaian kompetensi atau mismatch, dengan 38 persen berupa vertical mismatch dan 33,5 persen horizontal mismatch pada lulusan perguruan tinggi.

Tantangan lainnya adalah penyusutan kelompok kelas menengah, padahal, kelompok tersebut menyumbang 81 persen konsumsi rumah tangga sehingga pelemahan daya beli berpotensi menekan permintaan industri dalam negeri.

Shinta juga menyoroti tingginya biaya menjalankan usaha. Biaya logistik Indonesia berada di kisaran 14 persen terhadap PDB, lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara tetangga seperti Malaysia, Filipina, dan Vietnam.