NADIKABAR.COM — Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Muhammad Arif menyebut kapasitas pusat data (data center) di Indonesia diproyeksikan melampaui 1.000 megawatt (MW) pada 2030 seiring meningkatnya kebutuhan infrastruktur untuk mendukung pertumbuhan ekonomi digital.
"Kapasitas pusat data yang telah beroperasi secara nasional saat ini mencapai sekitar 540 MW, sedangkan kebutuhan infrastruktur diperkirakan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan," ujarnya usai peluncuran pusat data PT Tigabelas Solusi Nusantara (TSN) di Lamongan, Jawa Timur, Kamis.
Ia menjelaskan, permintaan terhadap data center masih tinggi karena banyak penyedia yang kapasitasnya diperkirakan sudah penuh dalam beberapa tahun ke depan sehingga perlu menyiapkan pembangunan fasilitas baru.
Menurut dia, perkembangan industri pusat data perlu diimbangi pembangunan infrastruktur yang tersebar di berbagai daerah agar kebutuhan penyimpanan dan pengolahan data tidak hanya bertumpu pada kawasan metropolitan.
Pusat data di daerah juga berpotensi mendukung pertumbuhan usaha penyedia jasa internet, memperluas kebutuhan tenaga kerja bidang teknologi informasi, serta menggerakkan sektor pendukung seperti pembangunan jaringan kabel dan infrastruktur telekomunikasi.
Arif menambahkan, kehadiran pusat data di Lamongan menjadi bagian dari perkembangan infrastruktur digital di Jawa Timur, yang juga mencakup pembangunan fasilitas berskala menengah dan edge data center di sejumlah daerah.
Sebelumnya, TSN dibentuk melalui kolaborasi 13 perusahaan teknologi anggota APJII Jawa Timur yang berasal dari Lamongan, Tuban, Bojonegoro, Mojokerto, dan Jombang.
Perusahaan tersebut mengoperasikan pusat data sekaligus melakukan peluncuran awal simpul pertukaran internet IIX-JI untuk memperkuat konektivitas jaringan lokal.