Bagi atlet profesional, sepak bola bukan sekadar olahraga, melainkan profesi dan sumber penghidupan untuk diri sendiri serta keluarga.
Penghasilan dari sepak bola digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, membiayai pendidikan anak, hingga persiapan untuk dana pensiun.
APPI menilai keterlambatan pembayaran gaji dan kompensasi kontrak bukan sekadar persoalan angka atau administrasi. Dampaknya nyata terhadap kehidupan pemain, mulai dari tekanan psikologis hingga hilangnya kepastian atas perlindungan finansial.
Kondisi ini semakin rentan bagi pemain Liga Nusantara dan kompetisi daerah, yang menggantungkan penghidupannya pada profesi sepak bola dengan keterbatasan sumber pendapatan lainnya.
Salah satu contoh nyata secara langsung dialami para pemain Sriwijaya FC, yang hingga saat ini belum memperoleh penyelesaian atas hak-hak mereka sejak musim kompetisi 2023/2024. Meskipun komunikasi dengan pihak klub telah beberapa kali dilakukan, pemenuhan kewajiban tersebut masih belum terealisasi.
"Tunggakan berulang yang berlangsung lintas musim (2022/2023, 2023/2024, 2024/2025, dan 2025/2026) menunjukkan bahwa penyelesaian hak pemain masih menjadi persoalan serius yang membutuhkan komitmen dan langkah nyata dari pihak klub," sebut APPI.