NADIKABAR.COM — Amerika Serikat (AS) tengah bersiap meminta negara-negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) menambah pendanaan untuk program utama pengadaan senjata bagi Ukraina.

Langkah tersebut dilakukan Washington untuk menutup kekurangan dana yang mencapai miliaran dolar di tengah berlanjutnya bantuan militer AS kepada Kiev, demikian laporan Bloomberg, Senin (2/11).

Sejumlah sumber yang mengetahui pembahasan tersebut mengatakan kepada Bloomberg bahwa permintaan itu dapat disampaikan paling cepat bulan ini. Washington akan meminta tambahan kontribusi untuk Prioritized Ukraine Requirements List (PURL), sebuah inisiatif yang memungkinkan negara-negara sekutu membiayai pembelian senjata buatan AS untuk Ukraina.

Menurut laporan tersebut, AS telah memberi sinyal kepada sejumlah negara anggota NATO mengenai rencana untuk meminta tambahan pendanaan. Namun, jumlah pasti dana yang akan diminta Washington belum diketahui.

Sumber-sumber tersebut, yang berbicara dengan syarat identitasnya dirahasiakan karena membahas perundingan tertutup, mengatakan program itu menghadapi kekurangan pendanaan sekitar 2 miliar dolar AS (sekitar Rp36,3 triliun) untuk paket persenjataan yang telah disetujui.

Meski menghadapi kekurangan dana, AS tetap melanjutkan pengiriman senjata ke Ukraina sebelum menerima seluruh kontribusi pendanaan dari negara-negara sekutunya. Kekurangan tersebut berpotensi meningkat apabila Pentagon menyetujui pengiriman tambahan persenjataan, kata sumber-sumber itu.

PURL telah menjadi salah satu komponen utama upaya NATO untuk memperkuat kemampuan militer Ukraina. Melalui mekanisme tersebut, negara-negara anggota yang berpartisipasi menyumbangkan dana untuk membeli senjata dan peralatan militer AS, yang selanjutnya dikirimkan ke Kiev.

Pengiriman sebelumnya melalui inisiatif tersebut mencakup sistem pertahanan udara penting dan berbagai peralatan militer lainnya yang dibutuhkan pasukan Ukraina di tengah perang yang masih berlangsung dengan Rusia.

Rencana permintaan tambahan pendanaan itu juga menunjukkan bahwa dukungan militer AS untuk Ukraina masih berlanjut meskipun terdapat ketegangan politik antara Presiden Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.

Menurut Bloomberg, Pentagon tetap mempertahankan pengiriman senjata meskipun kontribusi pendanaan dari negara-negara sekutu belum mampu mengimbangi laju pengiriman peralatan militer buatan Amerika Serikat.

Penerjemah: Yoanita Hastryka Djohan