Mahan Air, yang merupakan salah satu maskapai penerbangan swasta terbesar dan paling dikenal di Iran, yang juga dikenal memiliki rute internasional yang luas, tidak masuk dalam daftar tersebut.

Sebabnya, Mahan Air telah terlebih dahulu dikenai sanksi AS, tepatnya sejak 12 Oktober 2011, atas tuduhan memberikan dukungan keuangan, material, dan teknologi kepada Pasukan Quds, sayap internasional IRGC.

Namun dalam pernyataan pada 8 September lalu, Bessent memperingatkan "konsekuensi berat" bagi pihak-pihak yang terus memfasilitasi Mahan Air yang telah dikenai sanksi sejak lama.

Selain menjatuhkan sanksi terhadap maskapai Iran, OFAC juga menjatuhkan sanksi terhadap 36 entitas dan individu tambahan yang dituduh mendukung sektor penerbangan Iran melalui perusahaan cangkang, perantara asing, dan jaringan pengadaan untuk memperoleh pesawat serta teknologi sensitif buatan AS.

Sanksi-sanksi itu menargetkan perusahaan-perusahaan di Uni Emirat Arab (UEA), Turki, dan Inggris, yang dituduh membantu Mahan Air mendapatkan pesawat buatan AS dan mendukung operasi penerbangannya. Menurut Departemen Keuangan AS, setidaknya ada tiga pesawat Boeing 777 yang didapatkan Mahan Air selama musim panas tahun 2026 melalui perusahaan perantara di UEA dan Oman setelah pesawat itu tidak lagi digunakan.

"Biarlah ini menjadi peringatan bagi siapa pun yang berbisnis dengan maskapai penerbangan Iran yang tersisa, yang semuanya telah kami kenai sanksi hari ini: Anda berisiko didepak dari sistem keuangan global," tegasnya.