Langkah Pentagon yang mewajibkan skrining hormon massal ini menuai sorotan tajam dari sejumlah pakar kesehatan dan praktisi medis. Banyak dokter mempertanyakan dasar ilmiah dari kebijakan tersebut.

Para ahli khawatir, tes testosteron massal tanpa indikasi medis yang jelas justru berisiko memicu terapi berlebihan (overtreatment), yang berpotensi membahayakan kesehatan prajurit. Apalagi, sejauh ini belum ada bukti ilmiah kuat yang menunjukkan bahwa skrining testosteron massal secara langsung mampu meningkatkan kesiapan tempur personel militer.

Menanggapi kontroversi ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan AS atau The Food and Drug Administration (FDA) dijadwalkan bakal menggelar pertemuan khusus. Kegiatan itu akan dihadiri para ahli pada pertengahan September 2026, guna membahas aspek keamanan dan indikasi medis penggunaan testosteron.