"Berdasarkan pemantauan BMKG, tingkat pencemaran udara (kadar debu halus atau partikel asap) di sebagian besar wilayah Sultra berada pada tingkat sedang hingga tidak sehat. Bahkan pada 17 Oktober malam, udara di Kabupaten Wakatobi diperkirakan masuk kategori tidak sehat," ujarnya.
Heri Purnomo mengungkapkan fenomena kabut asap ini terjadi karena angin berembus dari arah timur dan tenggara, membawa asap dari kebakaran hutan di kawasan Papua Selatan dan Maluku menuju Sultra. Kondisi ini diperparah oleh munculnya titik-titik karhutla di wilayah Sultra sendiri.
"Melalui pantauan satelit pada 7–12 Oktober 2026 terdeteksi sebanyak 1.644 titik panas di Sultra. Wilayah yang paling banyak ditemukan titik panas berada di Kabupaten Konawe (379 titik), Buton (267 titik), dan Bombana (202 titik)," kata Heri Purnomo.