NADIKABAR.COM — negara Asia Tenggara kembali mempertimbangkan energi nuklir di tengah meningkatnya konsumsi listrik yang memperlihatkan ketergantungan kawasan tersebut terhadap bahan bakar fosil.
Kenaikan tersebut terutama didorong oleh pembangunan pabrik baru, kendaraan listrik, serta ambisi negara-negara di kawasan ini untuk menjadi pusat data center, di tengah upaya menurunkan emisi karbon.
Saat ini, belum ada negara di Asia Tenggara yang mengoperasikan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) komersial. Namun, sejumlah negara mulai bertaruh pada energi nuklir dan menghidupkan kembali rencana yang sempat terhenti selama bertahun-tahun.
Pada 8 September, perusahaan energi milik negara Vietnam, Petrovietnam, dan perusahaan Korea Selatan, KEPCO, sepakat untuk memperdalam kerja sama dalam rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Ninh Thuan 2 di Vietnam. Enam hari kemudian, pemerintah Singapura mengatakan sedang mengkaji energi nuklir dan reaktor modular kecil (SMR) dengan "pikiran terbuka", meski menegaskan belum mengambil keputusan.
Vietnam ingin mengoperasikan dua PLTN Ninh Thuan pada 2035 dan mengembangkan sedikitnya satu proyek SMR.
Indonesia berencana membangun kapasitas nuklir awal sebesar 500 megawatt, dengan unit pertama ditargetkan mulai beroperasi pada 2032. Sementara itu, Filipina menargetkan kapasitas nuklir pertamanya sebesar 1.200 MW mulai tahun yang sama.
Rancangan terbaru rencana ketenagalistrikan Thailand mengusulkan pembangunan SMR pertama pada 2037. Sementara Malaysia dan Singapura masih berada pada tahap kajian.
Minat baru terhadap energi nuklir menandai perubahan tajam dari sikap hati-hati yang muncul setelah bencana nuklir Fukushima di Jepang pada 2011.
Kecelakaan tersebut membuat rencana sejumlah negara Asia Tenggara untuk mengembangkan energi nuklir terhenti, kata Alvin Chew, peneliti senior di S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technological University, Singapura, kepada DW.
Namun, serangkaian guncangan geopolitik dalam beberapa tahun terakhir telah mengubah perdebatan mengenai energi.
Badan Energi Internasional (IEA) mencatat pembangkitan listrik di Asia Tenggara meningkat sekitar 60% sejak 2015. Batu bara menyumbang sebagian besar kenaikan tersebut, sehingga pangsanya dalam pembangkitan listrik kawasan itu meningkat dari 37% menjadi 47%.
Perang di Ukraina dan krisis di Timur Tengah saat ini semakin meningkatkan kekhawatiran mengenai keamanan energi di negara-negara berkembang. Hal itu terjadi ketika sebagian besar pemerintah Asia Tenggara telah berkomitmen untuk mencapai emisi nol bersih pada 2050 atau 2060, kata Chew.