Begitu pulau vulkanik lahir, secara alami, ia berhadapan dengan perairan laut yang melahirkannya. Gelombang, angin, dan hujan secara terus-menerus menghantam dan mengikis bagian atas pulau tanpa henti, juga berkontribusi terhadap peristiwa ini.
Gelombang laut menghantam tebing pulau secara terus-menerus dan meluruhkan batuan vulkanik yang keras, dinamakan erosi. Luruhan batuan hasil erosi terbawa arus laut menjauh, dan pada saat yang sama hujan juga ikut mengikis dan mengurangi ketinggian gunung ini dari sisi yang lainnya.
Peristiwa ini terjadi dalam kurun waktu ribuan hingga jutaan tahun sebagai akibat dari erosi dan penurunan permukaan tanah. Namun, hasil akhirnya tetap sama yaitu puncak pulau yang semula tinggi dan tajam berubah menjadi permukaan yang relatif datar bahkan nyaris rata.
Setelah erosi terjadi, ada kemungkinan pulau vulkanik kembali menjadi gunung bawah laut. Namun, kali ini puncaknya sangat datar dan juga prosesnya diiringi dengan penurunan permukaan tanah.
Seluruh fenomena ini dipicu oleh pendinginan dan penyusutan kerak samudera. Saat lempeng samudera bergerak menjauh dari hotspot asalnya, maka kerak di bawahnya akan mendingin, memadat dan akan menyusut. Proses ini disebut subsidence.