NADIKABAR.COM — Di era digital yang serba cepat ini, akses terhadap konten pornografi dan media sosial menjadi sangat mudah dan tidak terbatas. Di balik kemudahan tersebut, ada fenomena kompleks yang kian marak terjadi namun sering kali dianggap tabu untuk dibicarakan, yaitu adiksi terhadap onani atau yang kini populer dikenal sebagai PMO (Porn, Masturbation, and Orgasm).

Dikutip dari Siloam Hospitals, PMO merupakan tindakan memuaskan diri secara seksual melalui aktivitas seperti melakukan masturbasi atau menonton konten pornografi. Meskipun aktivitas ini sering kali dianggap sebagai "pelarian" sesaat, kebiasaan yang tidak terkontrol dapat berubah menjadi kecanduan kronis yang menyabotase kualitas hidup, merusak kesehatan mental, hingga mengganggu fungsi organ reproduksi fisik.

Bagi Anda atau orang terdekat yang saat ini sedang berjuang, pulih dari kecanduan onani bukanlah hal yang mustahil. Artikel ini akan membahas secara mendalam bahaya nyata kecanduan onani serta langkah-langkah praktis dan jitu dari sudut pandang medis dan psikologis untuk melepaskan diri dari jerat adiksi ini.

Kecanduan onani tidak terjadi secara instan, melainkan melalui siklus psikologis yang menjebak. Dikutip dari buku Out of the Shadows oleh Patrick Carnes yang disitasi dalam penelitian Universitas Diponegoro, terdapat empat fase dalam siklus kecanduan masturbasi:

Preoccupation (Perenungan): Pikiran dan khayalan seseorang mulai dikuasai sepenuhnya oleh pikiran dan khayalan mengenai masturbasi atau seks.

Ritualization (Kebiasaan Pemicu): Seseorang mulai memulai kebiasaan-kebiasaan tertentu, seperti melihat film/gambar porno atau pergi ke tempat tertentu untuk membangkitkan gairah atau dorongan seksual.

Compulsive Act (Tindakan): Pelaksanaan aktivitas onani atau masturbasi untuk mendapatkan kenikmatan.

Despair (Rasa Hancur & Menyesal): Pasca-orgasme, penderita merasa kotor, tidak dapat menguasai diri, menyesal, dan putus asa. Seseorang biasanya berjanji bahwa ini adalah yang terakhir dan tidak akan mengulanginya lagi. Namun, rasa hancur ini mendorong penderita mencari kompensasi dengan kembali memikirkan seks, sehingga siklus kembali berputar.

Adiksi terhadap onani dan pornografi membawa dampak buruk yang memengaruhi sistem saraf, kondisi mental, hingga fungsi sosial seseorang.

Menonton pornografi sambil melakukan onani secara konstan akan membanjiri otak dengan hormon dopamin-senyawa kimia yang berfungsi untuk mengendalikan emosi dan menyampaikan rangsangan ke seluruh tubuh.

Disitasi dari artikel Siloam Hospitals, jika kadar hormon dopamin di dalam otak telah melebihi batas normal akibat pornografi, kondisi ini dapat menghambat perkembangan otak dan menyebabkan anak atau remaja kesulitan membedakan hal yang baik dan buruk. Selain itu, kecanduan PMO juga merusak sistem penghargaan (reward system) di otak dan mengganggu kemampuan kontrol impuls diri.