Bahlil menegaskan, Indonesia ke depan tidak ingin hanya menjadi negara yang mengekspor bahan baku, tetapi juga mengembangkan industri pengolahan dan ekosistem produksi dari hulu hingga hilir.

Ia mencontohkan perkembangan hilirisasi nikel yang telah mendorong peningkatan nilai ekspor komoditas tersebut.

Bahlil menyebut nilai ekspor nikel Indonesia pada 2017-2018 masih sekitar 3,3 miliar dolar AS. Setelah pemerintah mendorong hilirisasi dan pengembangan industri pengolahan, nilainya meningkat menjadi 34 miliar dolar AS pada 2023 dan lebih dari 40 miliar dolar AS pada 2025.

Untuk 2026, pemerintah menargetkan nilai ekspor sektor mineral nikel mencapai sedikitnya 45 miliar dolar AS.