Untuk pembangunan 15 PLTS itu membutuhkan Rp135 triliun, didorong dari investasi badan usaha baik nasional maupun internasional.
Langkah itu dilakukan untuk mendorong penggunaan sumber energi baru terbarukan (EBT) dan mengurangi ketergantungan dengan bahan bakar fosil, yang tidak hanya menyerap anggaran jika diperlukan melakukan impor untuk memenuhi kebutuhan, sekaligus sebagai bagian dari upaya mencapai target iklim Indonesia.
Qodari menjelaskan bahwa saat ini kapasitas PLTS nasional baru mencapai 1,76 GW, dari total kapasitas pembangkit listrik nasional sebesar 108 GW. Padahal, Indonesia memiliki potensi energi surya yang diperkirakan mencapai 3.294 GW.
"Di sinilah urgensi program ini melalui program PLTS 100 gigawatt peak, penggunaan bahan bakar diesel diperkirakan dapat dihemat hingga 6 juta kiloliter per tahun dan negara berpotensi menghemat anggaran hingga Rp73,9 triliun per tahun," ujar Qodari.