NADIKABAR.COM — Ada perjumpaan yang sekadar mempertemukan dua orang. Ada pula perjumpaan yang membuat dunia menunggu. Pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Washington pada 24 September 2026 termasuk yang kedua. Bukan semata karena keduanya memimpin dua kekuatan ekonomi besar dunia, melainkan karena agenda yang dibawa jauh lebih luas daripada tarif dan perdagangan.
Teknologi, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), mineral kritis, dan masa depan rantai pasok global ikut berada di meja perundingan.
Bagi ekonomi dunia, pertemuan tersebut berlangsung ketika ketidakpastian belum sepenuhnya reda. International Monetary Fund (IMF) dalam World Economic Outlook Juli 2026 memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3 persen pada 2026 dan 3,4 persen pada 2027. Pertumbuhan memang masih berjalan, tetapi risiko konflik, tekanan energi, kondisi keuangan, dan ketidakpastian geopolitik tetap membayangi.
Di sisi lain, investasi dan permintaan yang berkaitan dengan AI menjadi salah satu sumber pertumbuhan bagi negara-negara yang terintegrasi dalam rantai nilai teknologi global.
Karena itu, perjumpaan Trump dan Xi Jinping tidak tepat dibaca hanya sebagai episode lanjutan perang dagang. Dunia sedang menyaksikan perubahan cara negara memandang ekonomi. Jika pada masa lalu efisiensi biaya menjadi salah satu prinsip utama dalam membangun rantai pasok global, kini keamanan pasokan, ketahanan industri, penguasaan teknologi, dan akses terhadap bahan baku strategis semakin menentukan. Globalisasi tidak berhenti, tetapi logikanya sedang berubah.
Perubahan tersebut terlihat dari agenda pembicaraan Washington dan Beijing. Dalam perundingan tingkat pejabat sebelum pertemuan Trump-Xi Jinping, isu perdagangan, AI, dan mineral kritis menjadi perhatian utama. Amerika Serikat dan China juga membahas kemungkinan mekanisme dialog mengenai keselamatan AI. Dengan demikian, AI tidak lagi hanya dipandang sebagai mesin pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjadi bagian dari tata kelola keamanan dan hubungan antarnegara.
Mineral kritis memperlihatkan wajah lain dari perubahan tersebut. Rare earth, misalnya, bukan sekadar komoditas tambang. Bahan-bahan ini dibutuhkan dalam berbagai produk teknologi dan industri strategis. China memiliki posisi dominan dalam rantai pasok rare earth, terutama pada tahap pemurnian dan pengolahan. Karena itu, ketersediaan mineral tersebut menjadi salah satu isu penting dalam pembicaraan Washington-Beijing menjelang pertemuan Trump dan Xi Jinping.
Di sinilah tarif kehilangan statusnya sebagai satu-satunya instrumen dalam persaingan ekonomi. Tarif memang dapat mengubah harga barang dan arus perdagangan, tetapi penguasaan teknologi, mineral kritis, semikonduktor, energi, data, dan kapasitas produksi dapat menentukan ruang gerak suatu negara ketika terjadi gangguan global. Persaingan ekonomi abad ini semakin menyerupai persaingan atas kemampuan mengendalikan ekosistem produksi.