"Kami sedang menunggu para mediator menyampaikan pandangan pasti kepada kami, dan kami akan mengambil keputusan berdasarkan hal tersebut," tulis Araghchi.

AS telah menerapkan blokade ekonomi terhadap Iran untuk menekan Teheran agar menghentikan serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz. Serangan Iran itu telah mengurangi aktivitas pelayaran di jalur penting minyak dunia tersebut secara drastis.

Serangan-serangan dari Iran itu sendiri dipicu oleh perang yang dimulai AS dan Israel terhadap Iran pada Februari 2026. Iran membalasnya dengan melakukan blokade Selat Hormuz.

Trump sendiri berulang kali menegaskan AS menguasai jalur perairan itu. Penolakan Trump itu sendiri awalnya dilaporkan media The Wall Street Journal dengan mengutip pejabat AS yang tidak disebutkan namanya.

Laporan itu menyebutkan bahwa Trump secara pribadi meragukan Iran akan memenuhi tuntutannya dan telah mengatakan kepada stafnya bahwa dia memandang kemungkinan adanya kampanye pengeboman baru setelah pemilihan umum paruh waktu AS bulan November.

Sebelumnya, seorang pejabat AS mengatakan diskusi dengan Iran melalui mediator berlangsung 'positif dan konstruktif'. Pihak Iran juga menjalin komunikasi dengan rival mereka, Arab Saudi, terkait Selat Hormuz.

Hal ini menggarisbawahi besarnya taruhan dalam perang yang telah berlangsung selama 7 bulan tersebut, yang telah mengganggu aliran minyak melalui jalur pelayaran vital serta berdampak buruk pada ekonomi global. Araghchi mengatakan kepada para wartawan di PBB bahwa kesepakatan yang diusulkan tersebut akan memicu hitung mundur 7 hari menuju pembukaan kembali selat itu dan jeda dalam pertempuran di kawasan tersebut.