NADIKABAR.COM — Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Ketua Dewan Pengawas Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (PERIKLINDO), Bambang Soesatyo (Bamsoet) menilai perkembangan industri kendaraan listrik harus menjadi tolok ukur keberhasilan kebijakan hilirisasi Indonesia.
Menurutnya, hilirisasi tidak boleh berhenti pada pengolahan nikel menjadi bahan antara, pembangunan smelter, atau produksi komponen baterai. Tetapi, harus dilanjutkan hingga menjadi baterai, kendaraan listrik, komponen utama, perangkat lunak, hingga kemampuan menembus pasar ekspor.
Peluang tersebut semakin terbuka karena pasar kendaraan listrik Indonesia tumbuh pesat. Sepanjang tahun 2025, penjualan kendaraan elektrifikasi mencapai 175.144 unit, terdiri atas HEV, PHEV, dan BEV. Penjualan BEV sendiri mencapai 103.931 unit, lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2024 yang sebanyak 43.188 unit.
"Indonesia memiliki modal yang sangat besar untuk menjadi salah satu pusat industri kendaraan listrik dunia. Kita punya sumber daya nikel, pasar domestik yang besar, tenaga kerja, basis industri otomotif, serta investasi baru yang terus masuk. Karena itu, ukuran keberhasilan kita jangan berhenti pada berapa banyak nikel yang berhasil diolah atau berapa banyak pabrik yang dibangun. Ukurannya harus sampai pada seberapa besar nilai tambah, teknologi, komponen, kendaraan, dan lapangan kerja berkualitas yang berhasil kita ciptakan di Indonesia," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Selasa (22/9/2206).