Menurutnya, pembentukan karakter anak menghadapi tantangan yang semakin kompleks seiring perkembangan teknologi dan media sosial. Karena itu, pendidikan agama dan keteladanan keluarga menjadi fondasi yang tidak boleh ditinggalkan.
Illiza mengingatkan para orang tua agar tidak menyerahkan proses pembentukan karakter anak kepada lingkungan digital semata. Di tengah kemudahan anak mengakses berbagai konten melalui media sosial, orang tua memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan anak tetap mengenal jati dirinya, mengenal Allah SWT, mencintai Al-Qur'an, dan tumbuh dengan akhlak yang baik.
"Orang yang baik belum tentu saleh. Orang yang saleh dan salehah sudah pasti baik," tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan ayah dan ibu dalam mendidik anak sebagai amanah dari Allah SWT. Menurutnya, keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama yang menentukan arah tumbuh kembang seorang anak.
Illiza kemudian mengingatkan bahwa pola pendidikan dan pengasuhan juga perlu disesuaikan dengan tahapan usia. Pada usia 0-7 tahun, anak membutuhkan kedekatan, kasih sayang, pelukan, dan perhatian yang kuat. Memasuki usia berikutnya, anak mulai diarahkan dengan aturan dan kedisiplinan, sementara ketika beranjak remaja, hubungan orang tua dan anak perlu dibangun semakin terbuka agar orang tua dapat menjadi tempat anak bertumbuh sekaligus berdiskusi.