"Banjir diperkirakan memangkas 0,3 poin persentase dari pertumbuhan PDB tahun ini, sehingga pertumbuhan turun menjadi 2,1%, dan memangkas pertumbuhan kuartal ketiga sekitar 0,5 poin persentase menjadi 1,7%," kata Aat kepada Reuters.

Bangkok dan wilayah timur diperkirakan menanggung dampak terbesar, terutama pada sektor perdagangan grosir dan ritel. Sementara itu, sektor industri dan pertanian juga terdampak di wilayah lainnya.

University of the Thai Chamber of Commerce memperkirakan kerugian di Bangkok dapat mencapai sekitar 7 miliar baht. Universitas tersebut memperkirakan total dampak secara nasional mencapai 12,3 miliar baht atau sekitar Rp 6,6 triliun.

Banjir juga memicu gangguan terhadap aktivitas masyarakat dan usaha. Di sejumlah kawasan, warga kesulitan mendapatkan makanan dan pekerja tidak dapat mencapai tempat kerja.

Bangkok berada di atas delta sungai dengan tanah liat lunak dan hanya sekitar 1,5 meter di atas permukaan laut. Kota dengan populasi lebih dari 8,4 juta jiwa itu juga menghadapi banjir selama musim hujan yang berlangsung sekitar enam bulan.

Pada Senin (28/9), air mulai perlahan surut di Bangkok setelah hujan hampir terus-menerus selama akhir pekan. Namun, sejumlah permukiman dan jalan utama masih terendam.