Sementara itu, peneliti entomologi atau ilmu serangga Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Awit Suwito, mengatakan nyamuk spesies Aedes aegypti bisa tahan terhadap kondisi kering. Meski lebih menyukai air jernih, telur nyamuk pembawa demam berdarah ini tetap bisa bertahan di tempat lembap.
"Telur nyamuk tahan akan kondisi kering sehingga, bila memasuki awal musim hujan, menciptakan genangan-genangan air yang memungkinkan telur tersebut melanjutkan siklus hidupnya," papar Awit, dihimpun dari keterangan resmi.
"Sehingga seolah-olah penambahan populasi nyamuk makin tinggi dan serempak," imbuhnya.
Artikel ini telah tayang di detikEdu. Baca selengkapnya di sini!