NADIKABAR.COM — Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyebut estimasi kerugian perekonomian akibat peredaran beras fortifikasi palsu di masyarakat mencapai Rp89 triliun.

Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan (Deputi I) Bapanas, Brigjen Hermawan menyebut kerugian tersebut dihitung secara nasional dengan estimasi keuntungan penjualan beras fortifikasi palsu dari seluruh produsennya mencapai Rp23 ribu per kilogram.

"Setelah dihitung secara nasional, secara nasional karena kita ambil rata-rata Rp23.000 keuntungan, itu dihitung secara nasional dengan jumlah penduduk dan barang yang beredar itu sekitar Rp89 triliun," ujarnya dalam konferensi pers, Rabu (21/10).

Ia menjelaskan dalam modus operandinya para produsen nakal mengemas ulang beras premium atau medium dengan label beras fortifikasi.

Mereka, kata dia, kemudian menjual beras tersebut dengan harga mark up dikarenakan belum ada aturan batas harga eceran tertinggi (HET) untuk jenis fortifikasi.

"Dari situ saja sudah terlihat bahwa medium dengan harga Rp13.500 seharusnya ditambahkan yang 1 persen kernel tadi untuk melengkapi 99 persen beras untuk menjadi beras fortifikasi," ujarnya.