Menurut dia, studi itu menyoroti potensi kekayaan sumber daya hayati dan agenda pembangunan Indonesia untuk menempatkan negara ini sebagai salah satu pemimpin bioekonomi di Asia Tenggara pada masa mendatang.
Selain menghasilkan nilai ekonomi secara langsung, sektor biosolusi juga berpotensi memberikan efek berganda terhadap penciptaan lapangan kerja di sektor lainnya.
Setiap lapangan kerja baru di sektor biosolusi diperkirakan dapat mendukung penciptaan 3,8 lapangan kerja tambahan di sektor-sektor ekonomi lain, terutama pertanian dan sistem pangan. Efek berganda tersebut hampir 60 persen lebih tinggi daripada rata-rata global.
Temuan itu menunjukkan bahwa biosolusi berpotensi memperkuat rantai pasok lokal sekaligus menciptakan nilai ekonomi yang melampaui sektor tersebut.
Laporan tersebut juga mengidentifikasi potensi biosolusi dalam mendukung sejumlah prioritas pembangunan Indonesia, mulai dari ketahanan pangan, diversifikasi energi, transformasi industri hingga penciptaan lapangan kerja, peningkatan investasi, penerapan prinsip ekonomi sirkular, serta penguatan ketahanan jangka panjang.
Country Manager Indonesia Novonesis Yonny Setiady mengatakan biosolusi telah membantu berbagai negara meningkatkan pemanfaatan sumber daya, memperkuat ketahanan pangan dan energi, mengurangi emisi, serta membangun industri yang lebih tangguh.