Menukil Tafsir Fi Zhilalil-Qur'an karya Sayyid Qutb, musibah dan ujian menjadi cara untuk menempa jiwa dan meneguhkan keyakinan orang yang beriman mengenai kewajiban yang harus ditunaikan. Maka setelah menghadapi ujian, seseorang akan merasa berat untuk berkhianat kepada Islam karena mengingat beratnya pengorbanan yang telah dilakukan.
Sebaliknya, keyakinan yang diperoleh dengan mudah tanpa ujian justru akan mudah ditinggalkan oleh penganutnya. Dengan ini, semakin berat ujian dan pengorbanan akan semakin meninggikan akidah keyakinan dalam hati dan jiwa seseorang.
Pelajaran paling berharga dari beratnya ujian adalah momentum untuk mengembalikan kesadaran seutuhnya kepada Allah SWT saat menghadapi keraguan dan keguncangan hidup. Melalui ujian, hati dilatih untuk dijauhkan dari segala ketergantungan duniawi dan diarahkan semata-mata untuk mengingat Allah SWT. Pada saat ini, mata batin terbuka untuk menyadari bahwa tiada kekuatan melainkan kekuatan dari Allah SWT, tiada daya selain daya Allah, dan tidak ada keinginan kecuali keinginan mengabdi kepada Allah SWT.
Pada titik ini, roh manusia akan menemukan hakikat pemahaman hidup (tasawwur) yang paling benar dan kokoh.