NADIKABAR.COM — Pasangan atlet para tenis meja Indonesia Barce Layaba/Leli Marlina berhasil menyabet medali emas dalam pertandingan final ganda campuran kelas XD10 pada Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026, Jepang, Kamis.
Berdasarkan statistik penyelenggara, hasil mengesankan tersebut didapat setelah keduanya menundukkan wakil Korea Selatan, Kim Younggun/Moon Sunghye, dengan skor 3-1 (6-11, 11-7, 11-8, 11-3) pada pertandingan yang diselenggarakan di Sky Hall Toyota.
Pasangan itu sempat kehilangan gim pertama. Namun, mereka berhasil bangkit dalam tiga gim berikutnya untuk menyegel kemenangan.
Keduanya bahkan tampil digdaya saat gim keempat, sehingga perolehan poin terpaut jauh dengan lawan.
Torehan emas itu merupakan yang pertama bagi tim para tenis meja Indonesia. Prestasi tersebut semakin spesial bagi Barce, karena dia sebelumnya meraih perunggu dari nomor tunggal putra kelas TT4-5.
Perjuangan pasangan itu sempurna karena sejak fase grup karena mereka tidak terkalahkan.
Pada pertandingan pertama, pasangan Merah Putih itu mengalahkan atlet dari Kamboja, Kosal Yoy/Saroung Sorn, dengan skor 3-0 (11-3, 11-8, 11-5). Lawannya itu tak berdaya melawan pola permainan cepat dan akurat dari Barce/Leli.
Saat laga kedua, wakil tanah air itu juga mengemas kemenangan melawan pasangan dari Taiwan, Lin Yen-ying/Cheng Ming-chih, dengan skor 3-0 (12-10, 11-7, 11-4). Kemudian dalam laga ketiga, wakil dari Thailand, Norakan Chanphaka/Panwas Sringam, menjadi korban berikutnya dengan skor 3-0 (11-7, 13-11, 11-8) saat pertandingan terakhir atau ketiga grup.
Memasuki fase perempat final, mereka menundukkan pasangan Thailand, Wanchai Chaiwut/Wassana Sringam, dengan skor 3-1 (11-3, 8-11, 16-14, 11-9). Saat semifinal, giliran Zhengyang Peng/Bian Zhang asal China yang menjadi korban kedigdayaan wakil tanah air itu. Lawan dikalahkan dengan skor 3-2 (11-8, 4-11, 11-5, 7-11, 11-6), guna memastikan tempat di babak puncak.
Nomor ganda campuran kelas XD10 adalah nomor pertandingan tenis meja bagi dua atlet putra dan putri penyandang disabilitas fisik yang bermain sebagai pasangan dengan klasifikasi standing (bermain sambil berdiri).
Berdasarkan regulasi penyelenggara, kelas 10 termasuk kategori atlet yang bermain sambil berdiri (kelas 6-10). Atlet kelas 10 umumnya memiliki keterbatasan fisik pada tingkat sedang, misalnya gangguan fungsi pada salah satu anggota tubuh atau keterbatasan gerak tertentu.